“Yang Runtuh Jadi satu” Kota Larantuka dipadati Manusia
BinakaryaNews, hari ini 30 Juli 2026, suara sorak-sorai menggema di jantung kota Larantuka. Kota yang dikenal dengan Vatikannya, Indonesia ini menjadi ramai dengan musik dan nyanyian, tarian daerah dan teater. Perpaduan tersebut menjadikan suasana taman kota Felix Fernandes bergaung merdu mengikuti alunan suara para penyanyi dan musik daerah yang terus dikembangkan oleh pemerintah Flores Timur.


Festival Bale Nagi merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan pariwisata di Kabupaten Flores Timur. Festival ini dibuka secara resmi oleh bapak Antonius Doni Dihen bupati Flores Timur melalui penyalaan obor disaksikan oleh masyarakat yang hadir pada malam itu. Selain itu, penonton yang hadir juga menyaksikan proses penyerahan salinan kematian BPJS Ketenagakerjaan oleh kepala BPJS Provinsi NTT kepada pemerintah Flores Timur. Selain menyaksikan acara pembuka, para penonton juga dihibur dengan berbagai mata acara yakni lagu “Bale Nagi’ yang dinyanyikan dengan luar biasa sebagai lagu pembuka acara peresmian festival ini. Semua tamu yang hadir terlihat menikmati lagu tersebut yang bernuansa sedih mengikat hati masyarakat Flores Timur untuk kembali ke Nagi. Suara merdu penyanyi juga menciptakan suasana teduh yang mengobati rindu yang telah lama berlabuh di perantauan. Taman kota Felix Fernandes menjadi ramai Saat seorang murid bernama Apil memainkan gambus. Persembahan dari Apil ini merupakan media yang menghantar kaum milenial mencintai musik daerah.
Penonton yang hadir dalam acara pembukaan merasa terpukau dengan penampilan mas Iwan yang tampil luar biasa di atas panggung dengan busana seperti seorang imam. Penonton terheran-heran dengan tubuhnya yang lentur saat menari di atas panggung, seolah-olah ia adalah dewa tari yang sedang mengikuti kompetisi. Dia adalah seorang penari yang sudah tampil dibanyak event baik dalam negeri maupun luar negeri sehingga tidak heran ia tampil begitu luar biasa di atas panggung. Dalam acara ini, hadir juga para seminaris yang berhasil membuka kedok-kedok permusuhan dalam masyarakat dengan teater yang mereka tampilkan. Teater adalah ruang refleksi melalui gerak dan ekspresi yang mengajak kita melihat kehidupan melalui sudut pandang berbeda. Teater dengan judul “Yang Runtuh Jadi satu” merupakan ungkapan perasaan kepada dunia yang sedang bertikai. Mereka mempertajam isi dari teater tersebut melalui gerakan dan suara yang menunjukkan kekhawatiran mereka sebagai kaum milenial yang ingin memperjuangkan perdamaian. Ungkapan “Beratus-ratus tahun berperang dan tidak habis-habis”, mengungkapkan ketajaman mereka melihat dunia sekitar. Para seminaris tampil totalitas melalui gerakan-gerakan mereka yang luar biasa tanpa melakukan kesalahan. Teater ini mengingatkan para penonton untuk menyelesaikan masalah secara damai tanpa pertumpahan darah. Kata “berdamailah” diucapakan berulang kali oleh para seminaris di bagian penutup teater tersebut. Mereka berpelukan dan bergandengan tangan menutup acara teater tersebut.
Penulis: Egy Banis
SMKS Katolik Bina Karya Larantuka.

