HASIL RAPAT KERJA (RAKER) GURU DAN PEGAWAI TAHUN AJARAN 2025/2026 SMK SWASTA KATOLIK BINA KARYA LARANTUKA “LEPAS LANDAS”

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan bimbingan-Nya, Rapat Kerja (Raker) SMKS Katolik Bina Karya Larantuka untuk Tahun Ajaran 2026/2027 dapat terselenggara dengan baik, dan dokumen hasil raker ini dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.

Raker yang dilaksanakan secara maraton pada hari Rabu, 17 Juni 2026 hingga Kamis, 18 Juni 2026 ini merupakan momentum krusial bagi seluruh civitas akademika SMKS Bina Karya Larantuka dalam melakukan refleksi, pembenahan, serta penyusunan strategi visioner ke depan. Dengan mengusung visi utama “SMK Bina Karya Lepas Landas”, dokumen ini merangkum seluruh gagasan, usulan, penegasan pimpinan, serta laporan pertanggungjawaban riil capaian dari empat pilar utama sekolah: Bidang Kurikulum, Bidang Kesiswaan, Bidang Sarana Prasarana (Sapras), serta Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) dan Hubungan Industri.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Kepala Sekolah atas arahan dan komitmennya, para Wakil Kepala Sekolah, Bapak/Ibu Guru, Tim Pembina, serta seluruh peserta raker yang telah berpartisipasi aktif menyumbangkan pemikiran demi kemajuan sekolah. Dokumen ini diharapkan dapat menjadi kompas dan panduan kerja formal yang wajib dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab oleh semua pihak terkait pada semester baru 2026/2027.

Larantuka, 18 Juni 2026

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lembaga pendidikan kejuruan seperti SMKS Bina Karya Larantuka dituntut untuk selalu adaptif, dinamis, dan relevan dengan perkembangan dunia kerja serta kebijakan pendidikan nasional. Dalam perjalanannya, keberhasilan maupun kegagalan program kerja yang telah dilewati merupakan realitas objektif yang harus disyukuri dan dievaluasi secara jujur. Tanpa adanya pembenahan yang terstruktur, mutu kelulusan dan tata kelola manajemen sekolah akan stagnan.

Pada akhir Tahun Pelajaran 2025/2026, SMKS Bina Karya Larantuka mencatat pertumbuhan dan capaian akademik yang sangat baik dengan total 239 peserta didik yang tersebar di 5 (lima) Konsentrasi Keahlian. Namun, evaluasi berkala menunjukkan adanya tantangan operasional dan logistik yang harus diselesaikan di berbagai lini, mulai dari standardisasi regulasi akademik, fluktuasi keaktifan kegiatan ekstrakurikuler, penurunan kondisi sarana prasarana praktik, hingga optimalisasi hubungan kerja sama dengan Dunia Usaha/Dunia Industri (DUDI).

Oleh karena itu, Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026 ini diselenggarakan sebagai wadah formal untuk menyatukan Laporan Evaluasi Akhir Tahun dengan dinamika usulan di ruang rapat. Langkah ini meletakkan pondasi strategis bagi sekolah untuk melakukan lompatan mutu, yang dianalogikan oleh Kepala Sekolah sebagai gerakan “SMK Bina Karya Lepas Landas”. Dokumen ini disusun untuk melegalkan hasil kesepakatan rapat agar memiliki kekuatan hukum internal dan menjadi acuan kerja yang terukur.

1.2 Tujuan

Penyusunan dokumen hasil Raker ini memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Mendokumentasikan secara resmi seluruh laporan pertanggungjawaban program kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana, dan humas, serta resolusi yang disepakati dalam Raker SMKS Bina Karya Larantuka.
  2. Menghasilkan pedoman tata tertib akademik, sanksi tertulis, serta standardisasi operasional sekolah.
  3. Menyelaraskan program kurikulum dan sarana praktik dengan kebutuhan dunia kerja (Link and Match) melalui komunikasi intens dengan dunia industri serta memperkuat level sertifikasi kompetensi nasional.
  4. Merevitalisasi tata kelola sarana prasarana dan manajemen bengkel kejuruan secara bertahap dan terjadwal berdasarkan basis data kerusakan nyata.
  5. Membangun jejaring bursa kerja, penelusuran alumni, dan kemitraan strategis nasional guna menjamin keterserapan lulusan di pasar kerja.

1.3 Manfaat

  1. Bagi Pimpinan Sekolah: Sebagai instrumen kontrol dan monitoring terhadap kinerja para wakasek, staf pengajar, dan unit kerja sekolah berdasarkan basis data capaian riil.
  2. Bagi Guru dan Staf Akademik: Memberikan kepastian hukum, penyamaan persepsi sanksi akademik, tata laksana administrasi, serta dukungan fasilitas mengajar yang memadai.
  3. Bagi Kesiswaan dan OSIS: Menjadi arah baru pelaksanaan kegiatan kepemimpinan siswa dan ekstrakurikuler yang lebih variatif, berbobot, dan ditunjang oleh pelatih profesional ahli.
  4. Bagi Institusi: Meningkatkan citra, status akreditasi, dan mutu daya saing lulusan SMKS Bina Karya Larantuka di mata masyarakat serta mitra DUDI baik dari segi hardskill maupun softskill (karakter).

BAB II

PEMBAHASAN RAKER HARI KE-1 – SESI I (BIDANG KURIKULUM)

  • Moderator: Sopiah Burak Beriber
  • Penyaji Laporan: Leonard Kleden, S.Pd. (Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum)
  • Fokus Utama: Evaluasi Capaian Akademik TP 2025/2026, Profil Akademik, Pembenahan Regulasi Akademik, Pengembangan Asesmen (TKA/UKK), dan Sinkronisasi Dunia Kerja (PKL).

2.1 Profil dan Data Akademik Eksisting (TP 2025/2026)

Berdasarkan Laporan resmi Bidang Kurikulum Juni 2026, berikut adalah profil data statistik SMKS Bina Karya Larantuka:

  1. Komponen Profil Akademik Utama: A. Jumlah Tenaga Pendidik (Guru): 35. B. Jumlah Konsentrasi Keahlian: 5. C. Jumlah Peserta Didik: 239. D. Persentase Kelulusan Kelas XII: 100%. E. Persentase Kenaikan Kelas: 100%. F. Persentase Capaian PKL: 100%.
  2. Sebaran Peserta Didik Per Konsentrasi Keahlian: A. Teknik Sepeda Motor (TSM): 86. B. Teknik Pemesinan (TPM): 49. C. Teknik Konstruksi dan Perumahan (TKP): 46. D. Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ): 41. E.Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL): 16.

2.2 Hasil Evaluasi Program, Hambatan, dan Usulan Rapat

  1. Sistem Sanksi Akademik & Absensi: Ditemukan fakta lapangan bahwa belum ada aturan tertulis baku terkait sanksi akademik siswa. Pak Asno mengusulkan agar pasca-raker segera disusun aturan tertulis mengenai sanksi akademik dan ketertiban absensi yang berlaku seragam untuk semua guru.
  2. Evaluasi Tes Kemampuan Akademik (TKA): Hasil TKA dilaporkan masih jauh dari harapan akibat kurangnya sosialisasi. Rapat menyepakati usulan agar pelaksanaan TKA dimajukan ke bulan Mei saat siswa masih aktif sekolah agar proses sosialisasi dan pendampingan berjalan maksimal pada 3 mapel wajib dan 2 mapel pilihan. Pilihan mapel siswa harus ditentukan sejak awal.
  3. Restrukturisasi Uji Kompetensi Keahlian (UKK): Sekolah masih menggunakan model UKK Mandiri. Demi mendapatkan tingkat sertifikasi nasional yang lebih baik, Waka Kurikulum mengharapkan peralihan ke LSP-1 atau LSP-2. Pak Polus Herin mengusulkan koordinasi dengan BNSP untuk sertifikasi tingkat nasional siswa dan guru, di mana guru penguji wajib memiliki Sertifikasi Teknis terlebih dahulu. Pak Jonter menambahkan perlunya pendekatan lanjutan dengan asesor jurusan lain.
  4. Optimalisasi Praktik Kerja Lapangan (PKL): PKL ditekankan sebagai jembatan Link and Match dan bukan rutinitas biasa. Dibutuhkan koordinasi lintas sektor (Waka Kurikulum, Hubin, Kesiswaan, dan Ketua Konsentrasi Keahlian). Penentuan lokasi PKL wajib didasarkan pada komunikasi intens yang diperkuat oleh adanya dokumen MoU legal dengan Institusi Pasangan.
  5. Administrasi Pembelajaran & Media Digital: Administrasi guru berkategori “Baik”, namun pemanfaatan teknologi belum merata. Pak Bendik meminta adanya format baku administratif sebagai panduan bersama. Pak Hendrik menyoroti perlunya memasukkan ujian berbasis Android dalam program tertulis. Bruder Hilar meminta roster pelajaran dibuat lebih awal dan ditempel di tiap kelas, sedangkan Pak Yos Geroda menegaskan kalender pendidikan sebagai acuan mutlak pembelajaran. Pak Dorus meminta tiap program keahlian tertib menyusun laporan/program praktik bengkel.

2.3 Analisis SWOT Bidang Kurikulum

  1. Strengths (Kekuatan): Jumlah guru memadai, dukungan manajemen sekolah yang kuat, serta capaian mutlak kelulusan, kenaikan kelas, dan kelulusan PKL sebesar 100%.
  2. Weaknesses (Kelemahan): Pemanfaatan teknologi pembelajaran belum merata di antara staf pengajar, serta sarana praktik bengkel yang perlu ditingkatkan.
  3. Opportunities (Peluang): Terbukanya peluang kerja sama luas dengan DUDI serta pesatnya perkembangan teknologi digital.
  4. Threats (Ancaman): Perubahan kebutuhan industri yang sangat cepat dan tantangan peningkatan kompetensi peserta didik secara global.

2.4 Penegasan Kepala Sekolah dan Resolusi Kurikulum 2026/2027

  1. Ketertiban Dokumen & Jurnal Kontrol: Pimpinan menegaskan pentingnya pengisian lengkap jurnal kelas/mengajar sebagai sarana kontrol. Pada tahun ajaran baru, perangkat pembelajaran wajib diserahkan langsung kepada Kepala Sekolah.
  2. Transformasi UKK ke LSP Nasional: Sekolah diinstruksikan segera membangun komunikasi formal dengan BNSP/LSP luar guna mengawasi dan mensertifikasi kompetensi nasional siswa.
  3. Peningkatan Kualitas TKA: Kerja sama pelaksanaan ujian TKA diperluas melibatkan sekolah lain. Pendampingan materi dikelola ketat sejak awal semester.
  4. Pemberlakuan Regulasi Sanksi Tertulis: Usulan rancangan sanksi akademik tertulis segera didiskusikan lanjut bersama pimpinan untuk menentukan eksekusi yuridisnya.
  5. Modernisasi Asesmen: Ujian berbasis Android diputuskan untuk dipertahankan secara formal dan kondusif. Program Link and Match diwujudkan nyata melalui pelatihan penyelarasan kurikulum industri.
  6. Revitalisasi Manajemen Bengkel: Ditetapkan resolusi penataan bengkel (lingkungan fisik dan SDM pengelola). Usulan penempatan Pater Boy akan diteruskan secara resmi ke pihak Yasspa.

BAB III

PEMBAHASAN RAKER HARI KE-1 – SESI II (BIDANG KESISWAAN DAN OSIS)

  • Moderator: Pak Jon Langkahmau
  • Penyaji Laporan: Pak Asno (Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan)
  • Fokus Utama: Penyampaian Laporan Evaluasi Program Kerja Kesiswaan Semester 1 (TP 2025/2026), Pembahasan Kalender Kegiatan Berkala, dan Revitalisasi Total Sistem Ekstrakurikuler.

3.1 Integrasi Laporan & Evaluasi Kesiswaan Semester 1 (TP 2025/2026)

  • Capaian Program Semester 1: Pembinaan karakter, upacara bendera bulanan, dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berjalan sesuai jadwal. Pendokumentasian mulai ditata rapi meskipun monitoring pimpinan harus diintensifkan.
  • Identifikasi Kendala Utama Lapangan:
  • Degradasi Keaktifan Ekstrakurikuler: Terjadi tren penurunan partisipasi siswa secara drastis pada pertengahan semester karena program dinilai monoton serta minimnya ketersediaan instruktur ahli.
  • Stagnansi Kinerja OSIS (Seksi Rohani): Program doa pagi tidak berjalan optimal karena pengurus OSIS bingung terhadap Tupoksi mereka, ditambah tingginya sikap apatis sebagian peserta didik.
  • Keterbatasan Fasilitas & Pelatih Bakat: Cabang olahraga (futsal, voli) dan kesenian (seni musik/koor) mengalami hambatan mutu output akibat keterbatasan peralatan layak dan ketiadaan pembina menetap.

3.2 Rencana Program Kerja Berkala Kesiswaan (Juli – Oktober 2026)

  • Juli 2026: MPLS siswa baru, inisiasi pendaftaran eskul, latihan PBB intensif, dan Malam Inagurasi.
  • Agustus 2026: Pembinaan intensif seluruh cabang eskul, persiapan HUT RI (karnaval, lomba eksternal, Misa Kenegaraan, dan upacara resmi).
  • September 2026: Reorganisasi total kepengurusan OSIS, pembekalan kepemimpinan, dan upacara pelantikan pengurus periode baru.
  • Oktober 2026: Pelaksanaan terstruktur program pengembangan minat, bakat, serta kompetensi internal siswa secara berkala.

3.3 Tanggapan, Masukan, dan Usulan Peserta Raker Sesi II

  1. Revitalisasi Doa Pagi & OSIS: Ibu Ida memberikan usulan perlunya pembekalan rohani khusus bagi pengurus OSIS, serta dikeluarkannya instruksi tertulis agar wali kelas wajib hadir mendampingi dan mengawasi langsung di kelas saat doa pagi guna menekan sikap apatis siswa.
  2. Kolektivitas Pendampingan Eskul: Pak Nar mengingatkan bahwa moral dan kegiatan eskul adalah tanggung jawab kolektif seluruh bapak/ibu guru. Pak Bendi dan Pak Bandy menyarankan penataan ulang format latihan agar tidak menjemukan.
  3. Usulan Konkret Cabang Ekstrakurikuler: a. Bola Kaki (Tim Albatross): Pak Hendrik mengusulkan pendaftaran resmi Tim Albatross ke ASKAB untuk mengikuti kompetisi Liga 2. Pak Bendik menambahkan pentingnya pemberian materi teori teknik sepak bola sebelum praktik lapangan. b. PBB & Kedisiplinan: Pak Bendik mengusulkan pelibatan pihak ketiga dari TNI/Polri dalam latihan PBB untuk membentuk mental baja siswa. c. Seni Musik, Vokal, & Bela Diri: Pak Bendik meminta pendampingan khusus bagi siswa yang minder menggunakan alat musik dasar. Pak Nar menanyakan tindak lanjut pembentukan tim koor dan cabang bela diri sekolah. d. Voli & Futsal: Pak Polus mendesak sekolah mendatangkan pelatih voli yang kompeten. Pak Wili Puka memaparkan kendala kerusakan alat dan mendesak peremajaan peralatan olahraga. e. Kebersihan Lingkungan: Pak Jonter mengusulkan perilisan jadwal piket kebersihan lingkungan berkala guna menanamkan karakter peduli lingkungan.

3.4 Penegasan Kepala Sekolah dan Resolusi Mutlak Sesi II

  1. Eksekusi Anggaran & Pengadaan Fasilitas: Kepala Sekolah menjamin pengadaan penuh fasilitas penunjang (peralatan olahraga hingga alat musik baru) pada semester baru.
  2. Kontrak Resmi Pelatih Profesional Luar: Alokasi anggaran khusus ditetapkan untuk merekrut pelatih luar ahli, meliputi: Pelatih Bola Kaki (Tim Albatross), Pelatih Bola Voli, Pelatih Futsal, Pelatih Seni Musik, Pelatih Pencak Silat, dan Pelatih Koor. Pendekatan personal dengan Pater Eman untuk eskul musik akan dilakukan langsung oleh Kepala Sekolah.
  3. Standar Output Unjuk Performa Publik: Seluruh cabang eskul diwajibkan tampil/unjuk performa di tempat umum secara berkala serta aktif mengikuti ajang perlombaan luar sekolah.
  4. Diklat Formal Pemimpin OSIS: Pengurus OSIS periode baru wajib melalui fase Diklat formal pasca-pelantikan. Fr. Top secara resmi dilibatkan aktif masuk dalam jajaran pengurus pendamping OSIS untuk memperkuat struktur pengawasan.

BAB IV

PEMBAHASAN RAKER HARI KE-2 – SESI I (BIDANG SARANA DAN PRASARANA)

  • Moderator: Antonius M. Bugis
  • Penyaji Laporan: Br. Hilarius J. Tawa, SVD, S.T. (Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Prasarana)
  • Fokus Utama: Perawatan Pompa dan Sumber Air, Pembenahan Manajemen Bengkel Praktik, Perbaikan Kerusakan Struktural Infrastruktur (Talang, Plafon, Jalan Masuk), Optimalisasi Fasilitas Kelas (Infokus), dan Evaluasi Krisis Anggaran Operasional Yayasan.

4.1 Hasil Evaluasi, Kendala Operasional, dan Dinamika Usulan Forum

Melalui pembacaan Laporan Program Kerja Sarpras (TP 2025/2026) dan tanggapan peserta rapat, dirumuskan poin-poin evaluasi sarpras sebagai berikut:

  1. Sistem Sumur Bor dan Pompa Air: Terjadi kendala teknis pada pasokan air bersih sekolah dan bengkel. Pak Hendrik mengusulkan agar perbaikan dan perawatan pompa serta sumur bor segera ditindaklanjuti tanpa ada toleransi molor waktu maupun dana. Kepala Sekolah menginformasikan bahwa air telah dites oleh teknisi, dan dalam waktu dekat direncanakan pertemuan koordinasi dengan Br. Hilar, Pater Rektor, dan Pater Boy pada hari Minggu terdekat.
  2. Tata Kelola dan Manajemen Bengkel Praktik: Pak Dorus menyatakan manajemen bengkel di seluruh jurusan perlu dibenahi secara total. Terkait inventaris, mesin yang berada di Ende serta besi siku pagar yang digali telah diatur oleh Pak Wili Weking, didukung informasi tambahan dari Pak Wili bahwa besi siku saat ini diamankan di bengkel TKP. Pak Dorus mengusulkan agar dilakukan opname alat bengkel di semua jurusan agar pengadaan lebih terarah. Pak Nar menyarankan agar semua perencanaan sarpras dibicarakan bersama agar masukan lebih kaya, di mana proposal pengadaan alat saat ini telah diserahkan kepada Pater Ketua Yasspa.
  3. Kerusakan Fisik Struktural (Talang Air, Atap, dan Jalan Masuk): 1. Talang Air Bengkel: Pak Polus Herin mengusulkan perbaikan talang air bengkel secara permanen; jika tidak, bentuk atap harus diubah menjadi bentuk atap gergaji. Pak Jonter meminta perhitungan efisiensi biaya antara mengganti kuda-kuda atap atau membuat talang baru. Pak Dorus menegaskan bahwa membalik kuda-kuda memerlukan biaya jauh lebih mahal karena pembongkaran total (jangka panjang), sehingga solusi jangka pendek terbaik adalah memperbaiki talang air. Terkait hal ini, forum mengusulkan untuk mengomunikasikan kendala struktural ini kepada jaringan alumni di Jakarta yang siap memberikan bantuan. 2. Mesin Genset: Pak Dorus menyoroti mesin genset yang rusak dan mengusulkan agar diperbaiki secara internal oleh jurusan otomotif (TSM). Pak Mikel menambahkan laporan kondisi riil bahwa baterai dan kabel output genset telah hilang dicuri. 3. Jalan Masuk Bengkel: Pak Mike melaporkan bahwa jalan masuk menuju bengkel harus segera diperbaiki karena kondisinya membuat bus sekolah tidak dapat masuk akibat bemper belakang yang selalu kandas.
  4. Sarana Pembelajaran Ruang Kelas: Ibu Ida menyoroti banyaknya perangkat infokus di ruang kelas yang rusak dan memohon perbaikan segera demi kelancaran KBM. Pak Hendrik menambahkan pentingnya membuat skala prioritas perencanaan barang antara yang emergensi dan non-emergensi. Diusulkan agar guru dan siswa jurusan TKJ dapat membuat perencanaan/jadwal berkala untuk memperbaiki peralatan elektronik dan digital sekolah sesuai keahlian jurusannya.
  5. Dinamika Diskusi & Metode Kerja: Pak Subandy meminta kepada moderator agar tidak membatasi ruang diskusi peserta raker, serta mengusulkan agar seluruh pengerjaan perbaikan sarana sekolah wajib melibatkan siswa sebagai bagian dari pembelajaran praktis.
  6. Krisis Keuangan dan Dukungan Dana Yayasan: Pater Boy memaparkan informasi riil mengenai kondisi keuangan sekolah yang selalu mengalami defisit dan selama ini disubsidi oleh yayasan. Berdasarkan informasi dari Pater Anton (Bendahara Yayasan), Yayasan Persekolahan Santo Paulus Ende (Yasspa) saat ini sedang berada dalam posisi krisis keuangan, sehingga SMK Bina Karya tidak mendapatkan bantuan dana saat ini. Sebagai solusinya, Yasspa menaikkan dana operasional internal sekolah. Sebagai langkah taktis eksternal, Pater Boy menjadwalkan kunjungan ke Jakarta pada minggu depan untuk menghubungi Yayasan Bina Wirawan yang dinilai siap memberikan dukungan dana bantuan.

4.2 Penegasan Kepala Sekolah dan Resolusi Strategis Sarpras

Merespons seluruh usulan teknis dan krisis pendanaan sarpras, Bruder Kepala Sekolah menetapkan instruksi mutlak sebagai berikut:

  1. Standardisasi Kewajiban Proposal & Laporan Mendetail: Setiap unit kerja diwajibkan membuat proposal tertulis di setiap kegiatan perbaikan sarana. Laporan inventarisasi harus dibuat secara mendetail, memisahkan secara jelas jumlah barang yang rusak dan barang yang masih layak pakai.
  2. Pembenahan Total Manajemen Bengkel: Kepala Sekolah memberikan kritik tajam bahwa kondisi fisik bengkel saat ini kurang baik (“masuk bengkel langsung membuat lapar”). Seluruh jajaran ketua jurusan wajib memperhatikan tata kelola manajemen bengkel yang bersih, rapi, dan sistematis.
  3. Resolusi Teknis Infrastruktur Atap: Ditetapkan bahwa membalik atap/kuda-kuda membutuhkan biaya yang terlalu besar. Sekolah memutuskan untuk mencari solusi perbaikan talang air yang memiliki daya tahan lama (long-term durability).
  4. Solusi Inventaris Infokus: Hasil pengecekan fisik menunjukkan bahwa hanya ada 6 unit infokus yang mengalami kerusakan nyata. Unit lainnya berada dalam kondisi baik, namun terkendala ketidaksesuaian jenis kabel VGA yang digunakan di ruang kelas. Masalah kabel ini akan segera diselesaikan.
  5. Eksekusi Infrastruktur Segera (Pasca-Liburan): Kepala Sekolah menetapkan 3 proyek sarpras utama yang wajib dieksekusi secara instan: 1. Perbaikan talang air bengkel. 2. Perbaikan dan pengaktifan kembali mesin genset (rumah genset ke depan wajib dibangun dari material besi kokoh demi keamanan). 3. Perbaikan dan perataan jalan masuk bengkel yang akan langsung dieksekusi setelah libur sekolah oleh siswa jurusan TKP di bawah pengawasan Pak Paul Watun.
  6. Pendataan Kelistrikan & Regulasi Operator: Sekolah menginstruksikan pembuatan pendataan menyeluruh untuk pengadaan peralatan listrik secara bertahap. Selain itu, merespons usulan Pak Nar, pimpinan memutuskan untuk menugaskan guru pendamping guna membantu Ibu Erna dalam kelancaran tugas Operator Sekolah, mengingat kondisi kesehatan Ibu Erna yang sedang tidak sehat.

BAB V

PEMBAHASAN RAKER HARI KE-2 – SESI II (BIDANG HUMAS DAN HUBUNGAN INDUSTRI)

Penyaji Laporan: Tim Hubungan Masyarakat (Humas) SMKS Bina Karya Larantuka

Fokus Utama: Laporan Evaluasi Kinerja Kemitraan Tahunan, Sinkronisasi Hambatan Praktik Kerja Lapangan (PKL), Pembentukan Bursa Kerja Khusus (BKK), Sertifikasi Kompetensi Nasional (BNSP), dan Program Promosi Sekolah.

5.1 PROGRAM KERJA STRATEGIS BIDANG HUMAS

Sebagai pijakan pelaksanaan tugas sepanjang tahun pelajaran, berikut adalah matriks Program Kerja Strategis Bidang Humas yang menjadi acuan performa dan capaian mutu kemitraan lembaga:

5.2 LAPORAN KINERJA HUMAS DAN IDENTIFIKASI KENDALA LAPANGAN

Berdasarkan pembacaan laporan satu tahun berjalan oleh Bidang Humas, ditemukan beberapa hambatan kemitraan strategis sebagai berikut:

  1. Keterbatasan Program Guru Tamu: Upaya Humas dalam mendatangkan dan menghubungkan guru tamu ahli dari dunia industri untuk mengajar di kelas belum berhasil terlaksana sepanjang tahun ajaran berjalan.
  2. Problematika Operasional PKL: Meskipun kuantitas kelulusan mencapai angka mutlak, ditemukan fakta bahwa hubungan komunikasi antara sekolah dan pihak DUDI belum maksimal. Kontrol/monitoring guru pembimbing selama masa PKL dinilai kurang intensif. Beberapa tempat DUDI sempat menolak siswa karena keterlambatan waktu masuk administrasi sekolah. Selain itu, masa praktik dinilai terlalu singkat (hanya berjalan 1 bulan). Dokumen kerja sama formal berupa MoU belum sepenuhnya ditandatangani dengan seluruh mitra industri, karena sebagian besar masih dalam tahap penjajakan awal serta adanya kendala legalitas tempat usaha mitra yang belum memiliki Surat Izin Tempat Usaha (SITU) atau Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUPP). Catatan sebaran PKL tahun lalu meliputi: Jurusan TPM sebanyak 2 siswa di Kupang, Jurusan TSM sebanyak 2 siswa di Kristorei, dan Tiara Indah Motor.
  3. Stagnansi Tracer Study (Penelusuran Alumni): Sistem pelacakan dan penelusuran rekam jejak alumni menggunakan instrumen digital Google Form belum optimal; data alumni yang berhasil dihimpun belum mencakup kuantitas keseluruhan lulusan.
  4. Kendala Birokrasi Pendirian BKK: Pembentukan Bursa Kerja Khusus (BKK) sebagai wadah penyaluran lulusan tidak dapat didirikan secara instan karena harus memenuhi 15 persyaratan ketat yang ditetapkan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinas Nakertrans) untuk diteruskan ke Kementerian Tenaga Kerja. Sejauh ini, sekolah baru berhasil menyelesaikan 2 tahapan awal.
  5. Kendala Biaya Sertifikasi BNSP: Pelaksanaan program sertifikasi kompetensi berstandar nasional lewat BNSP belum dapat terlaksana. Berdasarkan aturan program, apabila pelaksanaan sertifikasi dilakukan atas permintaan mandiri pihak sekolah, maka biaya operasional pengujian wajib ditanggung 100% oleh anggaran internal sekolah.
  6. Kemitraan KADINDA: Rencana membangun jejaring kerja sama formal dengan Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) dilaporkan belum terlaksana.

5.3 TANGGAPAN, MASUKAN, DAN USULAN STRATEGIS PESERTA RAKER SESI II

Pemaparan laporan Humas memicu rekomendasi taktis dari peserta rapat guna memperkuat posisi tawar sekolah di mata industri:

  1. Resolusi Solutif Guru Tamu: Pak Jonter memberikan masukan konkret bahwa sekolah telah berhasil mendapatkan kesediaan dari Pak Yasitus Daton untuk bertindak sebagai Guru Tamu pada periode mengajar berikutnya. Pak Nar menambahkan rekomendasi agar kriteria guru tamu yang diundang harus berasal dari kalangan wirausahawan riil, karena profil praktisi bisnis lebih tepat sasaran bagi mentalitas anak SMK dibandingkan pegawai kantor biasa.
  2. Klarifikasi Akses Kemitraan TKJ: Pak Yopi meminta Humas memberikan klarifikasi dan konfirmasi sejauh mana proses pendekatan dengan pihak PT Telkom, mengingat siswa jurusan TKJ selama ini mengalami hambatan dan belum bisa melaksanakan PKL di instansi Telkom.
  3. Urgensi Penguatan Dokumen Legalitas (MoU & BKK): Pak Nar menggarisbawahi tiga esensi utama Humas SMK: (1) Penyusunan MoU tertulis yang mengikat dengan industri pasangan wajib disegerakan karena memberikan jaminan kepastian tempat praktik siswa secara permanen sekaligus meningkatkan nilai akreditasi institusi sekolah; (2) BKK merupakan hakikat tertinggi SMK untuk mengantarkan anak didik langsung menuju dunia kerja; (3) Sistem koordinasi PKL harus diperbaiki total. Pak Hendrik meminta penjelasan detail mengenai prosedur formal pembuatan MoU dan syarat penyusunan dokumen kemitraan eksternal.
  4. Pembekalan, Perlindungan Moral, dan Apresiasi DUDI: Pak Subandy menyayangkan adanya keterlambatan komunikasi dalam pengurusan MoU industri. Beliau mengusulkan agar aspek disiplin, pembekalan teknis, serta pendampingan moral siswa ditingkatkan secara ketat sebelum diterjunkan ke dunia kerja. Terkait kasus penempatan di Kristorei, beliau mempertanyakan ketersediaan Fakta Integritas siswa agar jika ada masalah di lapangan, siswa melaporkannya sesuai prosedur formal sekolah dan tidak bertindak sepihak. Beliau juga menyarankan perlunya evaluasi pasca-PKL serta pemberian piagam apresiasi resmi kepada DUDI demi menjaga kedekatan psikologis antara sekolah dan industri. Pak Jon menambahkan pentingnya kualitas pembekalan agar siswa siap mental menerima realitas kerja di DUDI.
  5. Aturan Sanksi Paten PKL & Usulan Wilayah Luar: Pak Hendrik mendesak kurikulum dan humas menerbitkan aturan sanksi yang paten dan tegas bagi siswa PKL agar mereka memiliki kedisiplinan tinggi dan tidak memiliki kebiasaan gonta-ganti bengkel tempat praktik secara seenaknya. Di sisi lain, Pater Boy melemparkan usulan visioner agar membuka akses PKL jurusan TKP hingga ke Pulau Bali, mengingat kualitas instruktur teknisi di Bali didominasi oleh tenaga ahli dari Jawa yang sangat baik untuk transfer ilmu siswa.
  6. Revitalisasi Promosi Penerimaan Siswa: Pak Nyance menyoroti program promosi sekolah dalam menjaring siswa baru. Beliau mengusulkan, apabila masih dipercayakan memimpin lini terkait, akan membawa perubahan besar melalui program kerja baru yang diselaraskan secara penuh dengan Tupoksi Humas yang adaptif.

5.4 PENEGASAN KEPALA SEKOLAH DAN RESOLUSI MUTLAK BIDANG HUMAS

Menutup sesi deliberasi Humas, Bruder Kepala Sekolah menetapkan keputusan tertinggi pimpinan sebagai berikut:

  1. Restrukturisasi Konsep Guru Tamu: Program guru tamu diputuskan diubah formatnya menjadi sistem Kuliah Umum lintas jurusan secara massal guna efisiensi. Materi utama wajib berfokus pada penanaman tiga pilar: Wawasan Wirausaha, Pembentukan Karakter, dan Penegakan Disiplin Kerja.
  2. Pemberlakuan Fakta Integritas & Standardisasi MoU: Mulai semester depan, seluruh siswa PKL wajib menandatangani Dokumen Fakta Integritas tertulis. Dokumen MoU formal dengan industri pasangan diputuskan menjadi kewajiban mutlak yang mendasari hubungan kerja sama sekolah-DUDI.
  3. Pelegalan Bursa Kerja Khusus (BKK): Meskipun aturan birokrasi dari pemerintah sangat banyak, Kepala Sekolah menegaskan bahwa sebagai sekolah tua, SMKS Bina Karya wajib memiliki Bursa Kerja Khusus berskala nasional guna menyalurkan lowongan kerja industri secara valid kepada alumni. Proses pemenuhan syarat akan diurus secara konsisten ke depan.
  4. Resolusi Ekspansi Wilayah PKL Jauh (Labuan Bajo & Bali): Kepala Sekolah menetapkan keputusan strategis bahwa untuk tahun depan, lokasi PKL siswa Konsentrasi Keahlian Teknik Konstruksi dan Perumahan (TKP) akan ditempatkan secara terpusat di wilayah Labuan Bajo, memanfaatkan fasilitas dan jaringan kerja milik ordo SVD.
  5. Metode Monitoring & Evaluasi PKL: Mekanisme kontrol PKL diatur ulang: untuk wilayah DUDI di dalam kota wajib dilakukan monitoring secara langsung dengan turun ke lapangan (turba/turun bawah), sedangkan untuk lokasi DUDI luar kota/jarak jauh diizinkan menggunakan monitoring via telepon secara berkala. Pasca-pelaksanaan PKL, seluruh jurusan wajib mengadakan rapat evaluasi pengalaman kerja dengan melibatkan dan menghadirkan siswa tingkat bawah sebagai bentuk orientasi awal.
  6. Sinergi Promosi dan Apresiasi Mitra: Humas diinstruksikan melakukan kolaborasi penuh dengan Tim Promosi Sekolah dalam menggencarkan penerimaan siswa baru. Sebagai bentuk profesionalisme, sekolah diwajibkan mengirimkan surat ucapan terima kasih dan apresiasi resmi kepada seluruh pimpinan DUDI pasca-kegiatan penarikan siswa.

BAB VI

PROGRAM PRIORITAS TAHUN PELAJARAN 2026/2027

Berdasarkan potret permasalahan laporan kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana, dan hubungan industri, ditetapkan 5 (lima) pilar program prioritas sekolah untuk menyongsong visi “Lepas Landas”:

  1. Peningkatan Kompetensi Guru & Kesiapan Operator: Penyelenggaraan workshop internal, IHT pemanfaatan teknologi, peningkatan sertifikasi kompetensi teknis guru produktif menuju standar BNSP, serta penguatan staf pendamping operator sekolah.
  2. Penguatan Pembelajaran Berbasis Industri & Revitalisasi Bengkel: Mengembangkan sistem pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning), Teaching Factory (TEFA), serta penataan manajemen fisik dan tata kelola alat di bengkel kejuruan secara total.
  3. Digitalisasi Administrasi & Perbaikan Media Pembelajaran: Mengintegrasikan administrasi akademik (format perangkat ajar, pengisian jurnal mengajar, dan rapor) ke dalam sistem digital, serta perbaikan fasilitas media kelas (sinkronisasi kabel VGA dan infokus).
  4. Penguatan Fondasi Literasi, Numerasi, Karakter, dan Infrastruktur Dasar: Mengatasi kelemahan TKA melalui program literasi-numerasi terintegrasi, penguatan karakter rohani (Doa Pagi Terkontrol dipantau Wali Kelas), serta pemenuhan infrastruktur vital (eksekusi instan perbaikan talang air bengkel Watowiti, perbaikan genset, dan pengecoran jalan masuk bengkel).
  5. Ekspansi Kemitraan Dunia Kerja, Kelembagaan BKK, & Eksternal: Memperluas jejaring institusi pasangan (IP) melalui penandatanganan MoU mengikat, pendaftaran Tim Albatross ke ASKAB Liga 2, pengurusan 15 syarat pendirian BKK nasional, perluasan wilayah PKL TKP ke Labuan Bajo, serta pencarian sumber dana eksternal melalui jaringan Yayasan Bina Wirawan Jakarta.

BAB VII

REKOMENDASI DAN KESIMPULAN

7.1 Rekomendasi Tindak Lanjut

  1. Bidang Kurikulum: a. Segera membentuk tim kecil untuk merumuskan draf Dokumen Tata Tertib Akademik dan Aturan Sanksi Siswa Tertulis untuk disosialisasikan secara merata. b. Bagian Kurikulum bersama Hubin segera menyurati BNSP/LSP eksternal dan mendata guru produktif yang siap dikirim sertifikasi teknis. c. Penjadwalan, pemetaan mapel pilihan TKA, dan sinkronisasi kalender pendidikan harus rampung satu minggu sebelum KBM dimulai.
  2. Bidang Kesiswaan: a. Menyusun jadwal Diklat OSIS dan merumuskan draf program kerja rohani bersama perwakilan wali kelas untuk mengontrol ketat kegiatan doa pagi. b. Melakukan proses rekrutmen dan penandatanganan MoU dengan 6 pelatih eksternal (bola kaki, voli, futsal, musik, silat, koor) serta memasukkan anggaran pengadaan inventaris olahraga/musik pada RAPBS. c. Memproses administrasi pendaftaran resmi Tim Albatross ke ASKAB untuk kompetisi Liga 2.
  3. Bidang Sarana Prasarana: a. Segera menyusun proposal anggaran terperinci untuk tiga proyek mendesak: perbaikan talang air bengkel Watowiti, perbaikan total mesin genset, dan pengecoran jalan masuk bengkel pasca-liburan. b. Menugaskan guru pendamping secara resmi untuk membantu Ibu Erna menjalankan fungsi operator sekolah selama masa pemulihan kesehatan. c. Melakukan pengadaan kabel VGA yang sesuai standar untuk 6 unit infokus kelas, serta melakukan opname alat bengkel secara berkala di seluruh jurusan.
  4. Bidang Humas dan Hubungan Industri: a. Menyusun dokumen baku Fakta Integritas Siswa PKL dan mempercepat penandatanganan dokumen MoU tertulis dengan seluruh mitra DUDI yang sedang dijajaki. b. Merealisasikan undangan Kuliah Umum kepada Pak Yasitus Daton sebagai guru tamu dari unsur wirausahawan, serta mengoordinasikan teknis PKL TKP di Labuan Bajo. c. Melanjutkan proses pemenuhan 15 berkas persyaratan administratif BKK ke Dinas Nakertrans secara konsisten.

7.2 Kesimpulan

Rapat Kerja SMKS Katolik Bina Karya Larantuka Tahun 2026 selama dua hari telah berhasil memadukan laporan evaluasi riil akhir tahun dari empat pilar utama (Kurikulum, Kesiswaan, Sapras, dan Humas) menjadi sebuah peta jalan (roadmap) yang taktis, integratif, dan visioner.

Semboyan “SMK Bina Karya Lepas Landas” diwujudkan secara konkret melalui komitmen penegakan regulasi sanksi akademis tertulis, transformasi UKK menuju sertifikasi nasional BNSP, modernisasi sarana prasarana kelas, investasi besar pada pelatih ekstrakurikuler profesional, penguatan legalitas industri (MoU, Fakta Integritas, BKK), hingga langkah berani memperluas lokasi PKL ke luar daerah. Keberhasilan implementasi dari seluruh resolusi tertinggi ini berada pada kedisiplinan, loyalitas, sinergitas, dan kesetiaan seluruh komponen pendidik dan tenaga kependidikan dalam menjalankan tugasnya masing-masing demi memajukan sekolah di era kompetisi global.

BAB VIII: PENUTUP

Demikian Buku Dokumen Resmi Hasil Rapat Kerja (Raker) SMKS Katolik Bina Karya Larantuka Tahun Ajaran 2026/2027 ini disusun. Dokumen ini sah, berkekuatan hukum internal, dan mengikat bagi seluruh pengelola, guru, pegawai, dan siswa SMKS Bina Karya Larantuka dalam pelaksanaan tugas operasional sehari-hari sepanjang tahun ajaran berjalan. Semoga segala resolusi yang telah disepakati bersama dapat diwujudkan dengan penuh integritas demi tercapainya mutu pendidikan yang unggul, kompeten, berkarakter, dan siap bersaing di dunia kerja.

Ditetapkan di: Larantuka

Pada Tanggal: 18 Juni 2026

Mengetahui dan Mengesahkan,

Kepala SMKS Katolik Bina Karya Larantuka

Br. PIUS LEDO, SVD, S.Pd.

TIM NOTULEN SEKOLAH

Dokumen ini dicatat, dirangkum, disinkronisasikan, dan disusun secara resmi oleh tim notulen rapat kerja:

  1. Hendrikus H. Dasilva, S.Pd     ___________________________________
  • Fr. Eduardus Surianto, SVD   ____________________________________

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *